Tahan Menggenggam Bara

SUDAH jadi suratan takdir tampaknya, seiring memuncaknya peradaban berbasis materi, pandangan yang menuhankan akal dan selera nafsu dibandingkan hati bening apalagi ayat-ayat suci. Atas nama HAM, ditambah ekspresi berbalut akademis, gaya hidup yang aneh, menjijikkan, bahkan terkutuk bisa teranggap suci dan sakral.

Silakan tanya bagaimana ketika penganut gerakan LGBT menyiarkan ajarannya. Melawan gerakan mereka berarti tidak ilmiah, tidak rasional, kolot, dan anti-HAM. Siapa yang berbeda siap mereka lawan.Lihat, betapa mereka yang masih minoritas saja sudah tampak militan dan fanatik. Mempertahankan gerakan dan ajarannya demi sebuah nilai yang masih relatif. Dan di sisi inilah, kita selaku umat Islam yang tengah menuju beriman mesti menolehi diri.
Sudah seberapa siapkah kita menghadapi makhluk seperti mereka? Ketika semua nilai yang jadi pedoman hidup selaku umat Muhammad didekonstruksi semena-mena dengan nyanyian indah kebebasan.

Inilah masa ketika memegang keyakinan berislam jadi aneh, absurd, konyol, atau ketinggalan zaman. Situasi di tengah kekuasaan lemah dan disetir orang-orang abai agama memudahkan kalangan seperti LGBT untuk unjuk gigi secara terbuka dan frontal. Semacam momen tinggal landas menampilkan diri. Sama halnya dengan pembela komunisme, yang mendaku dirinyalah sebagai korban kejahatan abadi tanpa membuka mata bagaimana berdarah-darahnya leluhur dan idola junjungannya.

Bila untuk sebuah nilai saja akan berat tangan ini menggenggam bara fitnah, apatah lagi mengkritisi praktik kekuasaan. Atau menempuh jalan berbeda langkah inovasi yang mengusik kemapanan pebisnis di sekitar jejaring kekuasaan. Semua yang biasa aman dan nyaman mengeruk dari derita rakyat, bakal tidak terima ketika ada suara-suara mengkritisi. Di sinilah kita pun coba dilenakan dengan logika jungkir balik menerima proyek sulap kereta cepat Jakarta-Bandung.

Sebaliknya, menjadi pelopor untuk sebuah kebaikan, akan bersiaplah hadapi rezim pengetahuan yang sudah jadi beking kekuasaan, kapan pun selagi menguntungkan. Jangan harap ada kebaikan pada orang macam Dr Warsito kalau ia mengusik kalangan status quo. Seorang pendukung Warsito akan dihabisi sepuluh atau lebih kalangan yang antipati pada temuan ECCT.

Demikian juga dalam berpolitik, kini semua jadi sudah tertebak: memilih ‘waras’ untuk masuk ke pusara manisnya kekuasaan. Satu demi satu. Yang semula menyolot jadi oposisi, kini tinggal kenangan sia-sia belaka berjanji. Maka, memilih berbeda untuk tidak jadi segerbong koalisi penguasa sekarang seperti berada di bara; harus siap diotak-atik. Ini baru soal kekuasaan formal, belum bicara kekuasaan di balik kepemilikian tambang besar macam di Timika.

Alhasil, mudah bersuara atau kritis. Berderet para pemerhati dan pengamat kritis pada rezim terdahulu, hari ini rontok berjamaah dalam kubangan kekuasaan.

Mereka hanya garang di mulut tapi tidak berdaya sama sekali ketika muncul tawaran. Memilih berbeda untuk sebuah jalan kebenaran dan keadilan, sungguh, hari ini tidak mudah. Menjadi berbeda akan dipandang sebagai lawan yang mesti dilenyapkan. Sekurangnya siap dikerjai.

Related

Pintu Adab 7134418664679428420

Facebook

Hot in week

Comments

Jadwal Shalat


jadwal-sholat

VIDEO

Video : Kajian Akhir Zaman

item