Fir’aun Tempatnya di Neraka

“Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semua-nya, (dan Allah befirman), ‘Hai golongan jin (syetan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia,’ lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami. ‘Allah befirman, ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”(Al-An’am: 128).

PENYAKIT hati yang terdapat dalam ayat di atas, kini telah  menjalar ke berbagai umat, hingga pada kelompok-kelompok mu’aththilah (yang menafikan sifat-sifat Tuhan). Dan di antara imam kelompok mu’aththilah adalah Fir’aun.

Ia lalu merealisasikan makna ta’thildalam bentuk yang nyata. Ia mengumumkan dan menyeru kaumnya kepadanya. Dan ia mengingkari jika kaumnya memi-liki tuhan selain dirinya. Ia juga mengingkari jika Allah berada di langit di atas Arasy-Nya, mengingkari jika Allah berbicara dengan Musa, salah seorang hamba-Nya, ia mendustakan Musa dalam hal tersebut.

Lebih dari itu, ia meminta kepada menterinya, Haman agar membangun gedung tinggi untuk melongok –dalam anggapan mereka—kepada Tuhan MusaAlaihis-Salam, dan Fir’aun mendustakan hal itu.Demikianlah sebagaimana yang disebutkan Allah dalam fiiman-Nya,“Dan Fir’aun berkata, ‘HaiHaman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” (Al-Mu’min: 36-37).

Lalu, orang-orang Jahmiyah mengikutinya. Mereka mendustakan jika Allah berbicara, atau berada di langit di atas Arasy-Nya jauh dari makhluk-Nya.

Demikianlah, kaum Fir’aun dan kawan-kawan dekatnya mengikuti diri-nya, sampai Allah membinasakan mereka dengan ditenggelamkan dalam lautan. Allah menjadikan hal itu sebagai pelajaran bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan sebagai ancaman bagi musuh-musuh-Nya yang menafikan sifat-sifat Tuhan.

Kemudian hal itu berlanjut sampai pada zaman kenabian Musa, Kalimur-Rahman (yang diajak bicara oleh Tuhan). Kepadanya, Allah menegaskan tentang tauhid dan penetapan sifat-sifat (kesempurnaan) bagi-Nya.Tetapi, setelah Musa Alaihis-Salamwafat, dan orang-orang masuk ke dalam negeri Bani Isra’il, dan mereka mengagungkan masalah ta’thil di antara Bani Isra’il, sehingga menjadikan Bani Isra’il menerima ilmu dari para ahlita’thil, musuh-musuh Musa Alaihis-Salam, maka akibatnya adalah mereka mendahulukan masalah ta’thil tersebut daripada Kitab Taurat.

Dari sinilah kemudian Allah memberikan kekuasaan kepada orang yang membinasakan kerajaan mereka, yang mengusir mereka dari tanah air mereka sendiri serta menawan anak-anak dan para wanita mereka. Demikianlah, sebagaimana kebiasaan dan Sunnah Allah terhadap hamba-Nya jika berpaling dari wahyu dan menggantikan firman-Nya dengan perkataan para atheis dan ahli ta’thil dari kalangan ahli filsafat dan lainnya.

Demikian pula yang terjadi di maghrib saat muncul-nya ahli-ahli filsafat danmanthiq, serta mereka tenggelam di dalamnya. Ketika itu, Allah memberikan kekuasaan kepada orang-orang Kristen dan menjadikan penduduk pribumi (umat Islam) sebagai rakyat mereka.

Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri timur. Allah menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan para tentara Tartar. Dan itu terjadi di banyak negeri-negeri timur saat mereka menyibukkan diri denganTidak untuk tujuan komersil Maktabah Raudhatul Muilmu-ilmu filsafat.

Demikian pula yang terjadi pada abad ketiga dan awal abad keempat, saat orang-orang Iraq tenggelam dalam ilmu-ilmu filsafat dan atheisme. Pada saat itu Allah menjadikan kekuasaan di tangan Al-Qaramithah Al-Bathiniyah.

Mereka berkali-kali menghantam tentara khalifah, menghentikan perjalanan haji bahkan membunuh dan mena-wan mereka. Kemampuan mereka semakin menguat. Dan karenanya, banyak orang dari kalangan penguasa, menteri, penulis dan sastrawan yang dicurigai menyetujui mereka secara rahasia. Mereka pun akhirnya menguasai negeri-negeri maghrib.

Kerajaan mereka berpusat di Mesir, dan pada zaman mereka itulah kemudian dibangun kota Kairo.

Pada kelanjutannya, mereka juga menguasai negeri Syam, Hejaz, Yaman, dan Maghrib. Bahkan di Baghdad, kekuasaan mereka itu didukung hing-ga di atas mimbar Jum’at.Maksudnya, saat penyakit ini masuk ke Bani Isra’il, maka itulah saat kehancuran dan hilangnya kerajaan mereka.

Related

Islamipedia 5542603183054038889

Facebook

Hot in week

Comments

Jadwal Shalat


jadwal-sholat

VIDEO

Video : Kajian Akhir Zaman

item