Antara Doa dan Nabi Zakaria (Bagian 1)
Oleh: Zulfatul puadiah,
DOA adalah senjatanya orang mukmin, tentunya kalimat tersebut tak lagi asing di telinga kita.
Bahkan doa ialah sesuatu yang disyari’atkan oleh Allah SWT lewat firmannya:“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Q.S Ghafir: 60).
Doa dianalogikan dengan sebuah “Senjata” sedangkan kata “Senjata” dapat difahami dengan alat yang lazim digunakan untuk perlawanan musuh atau menyelamatkan diri, maka jelaslah bahwa doa ialah kunci kebaikan dan keselamatan orang mukmin.
Bahkan dalam suatu hadits Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah (dengan berdoa), maka Allah marah kepadanya.”
Jelas hal ini menjadi sebuah pembeda antara Allah dengan makhlukNya. Bila seorang manusia terus-menurus dipinta, ia akan balik marah. Tetapi jika Allah tak dipinta, justru Ia akan marah.
Berbicara tentang berdoa, tentunya berdoa memiliki tatacara yang mesti dilaksanakan, diantaranya yaitu, hendaklah berdoa diiringi kesabaran, bersungguh-sungguh, tidak tergesa-gesa dan dengan suara yang lemah lembut (tenang). Berdoa seperti itu, adalah cara berdoa yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria As.
Nabi Zakaria adalah seorang nabi yang diutus Allah, yang tidak memiliki keturunan hingga usia telah senja. Lantaran istrinya mandul. Sebenarnya sejak memasuki gerbang pernikahan pun beliau sudah mendambakan kehadiran seorang putera. Tapi apa daya hingga rambutnya beruban, tulang belulangnya melemah, keinginannya belum jua terpenuhi.
Walau demikian Nabi Zakaria tidak pernah putus asa untuk selalu meminta dan berdoa, ia yakin, sekalipun istrinya juga sudah tua renta bahkan seorang yang mandul, jika Allah menghendaki niscaya mereka akan dikaruniai anak juga.